Nugrozasik's Blog

ADAT PERNIKAHAN JAWA

Mematuhi aturan adat, adalah salah satu penunjang kesuksesan dalam pernikahan. Hal ini didasari dengan serankaian aturan yang umumnya menuntun kebajikan melalui simbol-simbol tertentu, agar membawa berkah bagi siapapun yang menikah. Demikian dikatakan Ny Wahyu Nurkasih, pimpinan Cynthia Wedding Package, kepada Liberty.
Kalau ada adat yang ditinggalkan, rasanya ada yang tidak lengkap. Kalau tidak lengkap, bukan tdk mungkin dalam beberapa hal bisa bisa membuat pengantin dan keluarganya merasa was-was. Sebab sampai saat ini, diakui atau tidak, bila meninggalkan adat masih dipercaya akan ada hal buruk yang bisa terjadi. Maka lebih baik melakukan ritual adat, sepanjang itu baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Proses pernikahan Adat Jawa:

  • Siraman. Simbol untuk pembersihan jiwa dan raga dari calon pengantin. Biasanya dilakukan satu hari sebelum diadakan akad nikah. Selama siraman ada 7 orang yang menyiramkan air kepada calon pengantin. Angka 7 bermakna Pitulungan, artinya penolong. Air yang digunakan untuk siraman bukanlah sembarangan air. Melainkan campuran dari kembang setaman dengan air yang diamil dari 7 mata air yang berbeda. Ini disebut dengan banyu perwitosari. Siraman diawali oleh orangtua calon pengantin, dilanjutkan dengan orang yang dituakan, dan diakhiri oleh pemaes (perias pengantin) sambil memecah kendi.
  • Malam Midodareni. Setelah beranjak malam, dilanjutkan dengan malam Midodareni. Adalah malam dimana kedua mempelai melepas masa lanjang. Acara ini dilangsungkan di kediaman mempelai perempuan. Disini ada acara nyantrik, tujuanya memastikan bahwa calon mempelai laki-laki akan hadir dalam acara ijab kabul dan kepastian bahwa keluarga calon mempelai perempuan siap melaksanakan perkawinan dan upacara panggih pada keesokan harinya.
  • Ijab Kobul atau Akad Nikah. Pada detik-detik inilah kedua mempelai dianggap sah menjadi suami istri. Prosesnya sesuai dengan agama masing masing. Dan dicatat oleh petugas KUA atau catatan sipil.
  • Panggih. Dalam acara ini, kembar mayang (bunga lambang pernikahan yang terbuat dari janur yang berjumlah satu pasang) diletakan diluar atau persimpangan jalan. Ini menandakan bahwa daerah tersebut sedang ada gelaran pernikahan. Lalu kedua mempelai di pertemukan.
  • Balang Suruh. Yaitu melempar daun sirih. Melambangkan cinta kasih dan kesetiaan.
  • Wiji Dadi. Mempelai laki-laki menginjak telur sampai pecah, kemudian mempelai perempuan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab. 1203

3 Komentar »

  1. Salam, ini merupakan kunjungan pertama saya, memang saya belum mengerti benar tentang topik yang anda bahas, namun stelah membaca tulisan anda, pengetahuan saya tentang adat istiadat di Indonesia semakin betambah, sungguh menakjubkan. Saya salut dengan blog anda, salam hormat saya artav 2011.

    Komentar oleh artav — Agustus 24, 2011 @ 1:18 pm

  2. saya mau menikah tetapi terbentur dengan kata kata lusan,,karena saya anak ketiga dan pacar say anak pertama,itu katanya adat jawa gak boleh,,gmn ya solusinya,,,????

    Komentar oleh try — September 18, 2011 @ 1:41 pm

    • sama,, yg saya alami jg persis seperti anda.
      pacar saya tidak jd menikahi saya gara-gara adat lusan,, padahal hubungan kami sudah sangat erat.
      tolong solusinya.

      Komentar oleh kiky — Desember 26, 2011 @ 8:19 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: