Nugrozasik's Blog

Mei 26, 2009

RUWATAN

Filed under: Budaya Jawa — Tag:, , , , , — nugroz @ 1:24 pm

RUWATAN

Bagian terpenting dari ruwatan sukerta adalah pagelaran wayang kulit dengan lakon pakem Murwakala. Murwakala berarti mendahului tindakan betahara kala. Atau mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi.
Dalam hal ini, sang dalang memiliki peran spiritual sebagai Ki Dalang kandang buwana, yang merupakan penjelmaan dari Batahara Wisnu. Putra sekaligus utusan Bethara Guru. Dia bertugas sebagai perwuat para sukerta dari andaman Bathara Kala.

Bathara Kala sendiri terlahir dari penyaluran birahi yang salah dari orang tuanya, Bathara Guru dan Dewi Umayi. Perilaku dan nafsu gandarwa Bathara Guru dan sifat Egois Dewi Umayi menjadi penyebab utama kelahiran mahluk raksasa berwatak gandarwa itu.
Akibat Dewi Umayi menolak hubungan intim dengan batahara Guru, meski tidak sampai hubungan badan, namun mani atau kama tetap keluar dari Bathara Guru yang sudah tersulut birahinya. Kama yang terjatuh kelaut inilah yang menjadikan Bathara Kala.
Dalam cerita Durga Ruwat, Akibat menolak senggama, Dewi Umayi dikutuk oleh suamiya Batahara Guru menjadi reseksi Bathara Durga. Dan oleh Sadewa dilakukan ruwatan untuk mengembalikan ke wujud semula.

Bathara kala telah membuat keributan di Kahyangan Jonggranging Saloka karena 2 dari 3 tuntutnaya tidak dipenuhi. Diantara nya minta mencari makan dibumi, diakui sebagai anak Bathara Guru, mendapat tahta di Jonggranging Saloka, dan dinikahkan dengan Dewi Sri. Namun tuntutan yang pertamalah yang dituruti Bathara Guru.

Cerita ini diawali ketika Bathara Kala menghadap penguasa Kahyangan Jonggringin Saloka yang tak lain adalah ayahnya sendiri, Batahara Guru atau Batahara Manikmaya. Raksasa ini mohon ijin agar dapat mencari makanan di bumi. Karena makanan di kahyangan Jonggranging Saloka sudah tidak mencukupi. Batahara guru meluluskan permintaan ini dengan syarat dan pembatasan. Bathara Kala hanya diperbolehkan memangsa manusia sukerta (sial) dan aradan (orang-orang yang lalai dalam hidupnya).
Maka turunlah Bathara Kala ke bumi untuk mencari mangsa. Berasamaan dengan itu, Bathara Guru juga mengutus Bathara Wisnu untuk melindungi manusia dari segala malapetaka. Bathara Wisnu sendiri ikut turun kebumi dan menyamar sebagai Dalang.
Di bumi, Bathara Kala menjumpai seorang manusia bernama Jaka Jatusmati, yang ternyata adalah anak ontang-anting(anak tunggal). Ketika hendak dimakan, anak ini cepat-cepat melarikan diri disebuah desa yang sedang menggelar pertunjukan wayang. Jaka pun bersembunyi diantara penonton.
Bathara Kala yang kemudian datang ke tempat tersebut, bukanya dapat menemukan Jaka, tapi malah terkesan dengan pertunjukan ini. Namun membuat penonton lari tunggang langgang sehingga pertunjukan bubar. Namun Bathara Kala terkesima, dan minta kepada dalang, agar meneruskan pertunjukan tersebut. Namun dalang yang bernama Ki Kandabuwana hanya mau meneruskan pertunjukan, bila Bathara Kala sanggup membayar. Karena tidak mempunyai uang atau barang lain, maka diserahkanya Gada sebagai upah.
Gada ini ini merupakan satu-satunya senjata yang diperkenankan Bathara Guru dalam membunuh mangsanya.
Saat pertunjukan dimulai, mata Bathara Kala melihat si anak yang menjadi buruanya, namun karena gadanya sudah diserahkan kepada dalang, maka dia tidak dapat membunuh anak itu. Ketika dia meminta kembali gadanya, sang Dalang minta ditukar dengan buruanya. Maka selamatlah Jaka Jatusmati dari mala petaka.
Kemudian Bathara Kala meminta membubarkan pertunjukan karena merasa lebih berkuasa & lebih tua dari sang dalang. Namun sang dalang mampu membuktikan bahwa dirinya lah yang lebih tua. Bahkan lewat mantera-mantra yang diucapkan, dia tahu tentang segala kekuasaan batin dan ilmu. Bathara kala pun mengakui kekuasaan dalang ajaib ini dan menyerah.
Akhirnya, dengan tembang-tembang dan mantera-mantera yang dilantungkan sang dalang berhasil menjinakan nafsu Bathara Kala. Maka terhindarlah para sukerta dari malapetaka. Dalam ruwatan, biasanya diakhiri dengan adegan ‘Sapu Jagad’ yang menggambarkan dunia kehidupan para sukerta telah bersih kembali. Hal ini dilambangkan dengan siraman air ‘Kembang Setaman’ dan ‘tigas rikma’ atau pemotongan rambut para sukerta.
Prosesi Ruwatan.
Ruwatan tidak hanya dilakukan terhadap individu-individu. Namun bisa juga terhadap instansi atau bahkan organisasi kemasyarakatan.
Tidak semua dalang mampu menjadi pemimpin (dalang) ruwat. Beberapa syaratnya adalah memiliki pengetahuan dan berpengalaman dalam bidang sastra dan budaya, mempunyai jiwa yang bersih,mampu memberikan teladan kepada masyarakat, menunjukan cinta kasih terhadap sesama dan mampu berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Bijaksana.Yang terpenting, seorang dalang harus mampu meruat dirinya sendiri. Artinya mampu mengendalikan nafsu yang tidak baik.

Syarat-sayarat mengikuti ruwatan.

  • Harus keadaan suci atau telah mandi kramas.
  • Puasa 3 hari sebelum diruwat.
  • Harus memperhatikan cerita atau adegan dari sang dalang. Karena berisi petuah-petuah leluhur.
  • Bagi sang dalang, salah satu syaratnya memohhon kepada Tuhan, agar kehendak para sukerta dikabulkan./ 2557

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: